Opinion

Utilitas ‘Investasi’ Miras

Beberapa saat yang lalu sempat ramai pembicaraan terkait peluang investasi minuman keras (miras) melalui terbitnya aturan dari pemerintah pusat. Tulisan ini mencoba mengurai motivasi ekonomi di balik investasi ini berikut pertimbangan kemungkinan beban biayanya.

Motivasi utama, yang tampaknya ‘resmi’, dan terucap adalah peningkatan daya saing investasi. Artinya, investasi akan menstimulus bidang usaha baru (miras), membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), dan menambah pemasukan negara. Hal ini mungkin tampak rasional dan cukup beralasan, mengingat kas negara yang semakin menipis, sehingga perlu segera mencari ‘tambahan’. Inilah yang dijadikan kesempatan bagi para suporter ‘iras’ – industri miras.

Sebagai calon pendatang baru, Indonesia mungkin perlu melakukan studi banding ke negara yang lebih berpengalaman. Salah satunya, Inggris yang 2,5% PDB-nya disumbang dari bisnis miras, menurut laporan riset Institute of Alcohol Studies UK tahun 2017. Angka ini menunjukkan potensi profit dan pemasukan negara dari industri miras.

Porsi ini, jika dibandingkan dengan PDB Indonesia, hampir setara porsi industri jasa akomodasi, dan makan minum, sekitar 2,6% pada tahun 2020 (Badan Pusat Statistik). Artinya, secara kasat mata, kemudahan mendapatkan miras di Inggris, dapat diibaratkan hampir sama dengan menemukan hotel, restoran dan rumah makan di tanah air.

Namun, perbandingan yang juga menarik adalah hitungan biaya ‘pengorbanan’ atas dampaknya. Berdasarkan laporan resmi pemerintah Inggris yang diterbitkan oleh Public Health of England, yang berjudul ‘The Public Health Burden of Alcohol and the Effectiveness and Cost-Effectiveness of Alcohol Control Policies’ tahun 2018, menyebutkan estimasi biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari konsumsi miras yaitu sekitar 1,3-2,7% dari PDB, hampir imbang yg disumbang oleh sektor ini, 2,5%.

Beban biaya tersebut dihitung berdasarkan estimasi biaya pengobatan penyakit akut akibat miras, biaya penanganan kriminal, penyimpangan sosial, kerugian atas berkurang/hilangnya produktifitas di dunia kerja, dan permasalahan/kekerasan di rumah tangga. Semua ini menunjukkan potensi beban biayanya adalah hampir setara bahkan berpotensi lebih besar daripada kontribusi ‘ekonomi’ yang disumbangkan pada PDB.

Penghitungan di atas belum termasuk biaya sosial lainnya seperti pengangguran, dan kematian, yang tentunya ‘tak ternilai’ oleh materi. Selain itu, berdasarkan laporan yang sama, kecanduan alkohol merupakan penyebab kematian tertinggi pada usia produktif 15-49 tahun di Inggris. Jadi, beban biaya kerugian negara tidak hanya atas resiko-resiko di atas, namun juga atas kehilangan daya saing dan masa depan generasi mudanya.

Jadi, utilitas (kepuasan) dari investasi miras adalah satu minus lima (1-5). Artinya, satu poin dampak positif, yaitu pertumbuhan ekonomi, dan minus lima poin untuk efek negatif pada kesehatan, kriminalitas, pengangguran, kekerasan rumah tangga, dan, yang tak ternilai, resiko kehidupan. Sehingga hasilnya mungkin tidak lagi minus empat (-4), bahkan menjadi minus ‘tak terhingga’ (∞) karena resiko kehilangan nyawa belum dapat dihitung dengan kurs apapun, termasuk bitcoin.

Maka dari itu, motivasi ekonomi atas investasi miras yang awalnya, tampak rasional, mungkin akan menjadi irasional (iras-ional, red) setelah menghitung biaya resiko di atas.

Ketika negara Barat yang telah jauh lebih dahulu bergelut dengan industri miras, tampak mulai bingung dan ‘kewalahan’ menanggung tingginya beban biaya dari ‘bencana’ sosialnya. Negara tercinta, sudah tepat dan tidak perlu terpukau, mengikuti jalan fatamorgana, yang justru ‘sebenarnya’ telah terbukti berujung semu, bahkan buntu. Wallahu’alam.

Another website: https://www.republika.id/posts/15167/mengambil-hikmah-dari-kerugian-bisnis-miras-di-inggris

End of Winter, 2021