Opinion

Rugi Waktu

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (QS. al-’Ashr: 1-2)

Kata ‘ashr dalam ayat di atas diterjemahkan menjadi ‘masa’, yang menunjukkan sebuah rangkaian waktu yang mewakili suatu keadaan tertentu. Sebagai contoh, masa panen adalah saat ketika tamanan telah siap diambil hasilnya, masa subur adalah waktu subur, masa kemarau adalah periode sulit air, dan masa paceklik yaitu keadaan kekurangan bahan makanan.

Masa yang berhubungan dengan manusia adalah waktu hidup atau kehidupan (al-hayah) yang dihitung dengan usia atau umur. Masa kehidupan manusia di dunia dimulai sejak kelahiran hingga kematian.

Hubungan masa dan kerugian adalah berkurangnya masa hidup manusia. Jika kerugian dalam ilmu ekonomi terjadi ketika pengeluaran lebih besar dari pemasukan, sehingga menyebabkan berkurangnya modal tanpa hasil. Maka, kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah modal utama di dunia yang terus berkurang. Karena setiap seseorang tumbuh dari balita hingga dewasa, pada hakikatnya, masa hidupnya berkurang. Sehingga, setiap manusia dalam kerugian, karena umurnya selalu berkurang.

Namun, pada ayat selanjutnya disebutkan pengecualiannya:

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3).

Manusia yang tidak merugi adalah mereka yang beriman dan sekaligus membuktikan keimanannya dalam perbuatan. Jika seseorang beriman saja tapi tidak beramal, maka iman-nya tidak sempurna. Sebaliknya, jika ia berbuat baik saja tanpa iman, maka amal-nya kosong dan salah alamat. Selanjutnya, iman dan amal dijalankan dan dijaga dalam sebuah keistiqomahan dan dibalut dalam kesabaran.

Kesimpulannya, masa hidup manusia akan selalu berkurang dari waktu ke waktu. Manusia yang merugi adalah mereka yang waktunya terbuang tanpa manfaat. Kehidupan akan selamat dari kerugian jika usia yang selalu berkurang diisi dengan iman dan amal, kemudian dirangkai dengan istiqomah dan sabar. Wallahu’Alam.

Autumn, 2021