Opinion

Melihat ‘Islam’ di Barat?

Sebagian Muslim ada yang mengungkapkan bahwa mereka lebih menemukan Islam di Barat walaupun bukan negara mayoritas Muslim.

Di antara yang membuat mereka terkesan adalah aspek kebersihan, dengan bersandar kepada sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi ‘Kebersihan adalah sebagian dari iman’. Sehingga, bersih adalah sebagian simbol dari iman yang merupakan salah satu ajaran dan ciri Islam.

Pendapat di atas didukung dengan fakta bahwa di beberapa kota di Barat, contoh London, tidak tampak sampah yang berserakan, khususnya pada spot destinasi favorit wisata, seperti Buckingham Palace, Green Park, Saints James Park, Big Ben, Westminster Abbey, dan Trafalgar Square, memang tampak bersih dan memanjakan mata para memandang.

Selain itu, ditambah dengan suasana asri taman Saints James Park, antara Big Ben dan Buckingham Palace, hati akan menikmati ruang terbuka hijau dilengkapi dengan kolam, bebek dan pula angsanya. Jika beruntung, berbagai jenis burung kecil akan hinggap di tanaman sekitar kolam ditambah dengan tupai yang juga mendekati tempat anda duduk, jika diberi makanan. Semuanya, tampak menguatkan kesan bersih.

Namun, pandangan tersebut belum sepenuhnya dapat diterima. Paling tidak ada dua hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menyetujui pendapat tersebut.

Pertama, kebersihan pada negara tersebut adalah kebersihan yang diciptakan. Artinya, faktor utama yang membuat tempat seperti Buckingham Palace dan tempat wisata lainnya adalah adanya petugas dan fasilitas kebersihan. Hal ini dapat dilihat dari adanya aktivitas pembersihan yang dilakukan rutin setiap pagi hari oleh pemerintah kota London.

Jika berkesempatan keliling kota setelah shalat Subuh atau sebelum matahari terbit, apalagi saat pagi setelah malam mingguan, akan terlihat banyak sampah yang berserakan, mayoritas kaleng dan botol minuman beralkohol, menanti untuk dibersihkan. Oleh karena itu, kebersihan ini ada, karena ada biaya dan upaya.

Pemandangan salah satu sudut kota London

Kedua, kebersihan yang ada hanya tampak pada permukaan. Artinya, apabila dilihat dan ditelusuri lebih detail, atau main lebih jauh, akan hilang kesan bersih itu secara perlahan. Hal ini dapat dibuktikan pada pemandangan di beberap sudut kota, seperti tangga menuju jembatan dan gang kecil atar bangunan, akan terlihat kotoran yang berserakan, sepanjang hari.

Selain itu, masih di pusat kota, apabila melihat ‘telephone box’ berwarna merah, beberapa akan terdapat aroma yang seharusnya dijumpai di toilet. Mungkin ini disebabkan sulitnya mencari toilet umum untuk buang air kecil di pusat kota. Bahkan tidak mesti setiap stasiun kereta bawah tanah ‘underground’ memiliki fasilitas toilet. Maka, kebersihan di atas masih berupa make-up belum menjadi perilaku.

Berdasarkan dua poin di atas, dapat disimpulkan bahwa pandangan bahwa Barat lebih Islami, karena kebersihannya, adalah pendapat yang tampak terburu-buru dan instant. Selain itu, motifnya juga bukan untuk menjalankan ajaran Islam, apalagi atas dasar Iman, melainkan alasan ekonomis untuk menarik para turis. Wallahu’Alam.