Opinion

Surga Terbuka

Di antara makna dari surga atau dalam bahasa Arab “jannah” (disebut dalam Al-Quran – jannah 76 kali, jannaat 67 kali) adalah taman “bustaan, hadiqah” yang erat kaitannya dengan keindahan.

Makna ini pun dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, yaitu ketika orang berekreasi ke taman yang umumnya untuk refreshing, menikmati keindahan sehingga menyenangkan hati. Visualisasi keindahan warna warni berbagai tanaman beserta ciptaan lainnya membuat hidup semakin indah bergairah.

Hal inilah mengapa banyak sekali taman – jumlah resminya 3.000 – yang dapat dijumpai di kota London. Jika dibandingkan dengan jumlah taman di kota-kota besar Eropa seperti Paris (421), Madrid (40), Amsterdam (30) dan Berlin (2.500), maka London adalah kota dengan jumlah taman terbanyak di Eropa, paling tidak 38 persen lebih banyak dari jumlah taman kota Jakarta (2.166).

Pemerintah UK, khususnya di kota London, dengan sengaja memperbanyak fasilitas taman – salah satunya – bertujuan untuk membuat bahagia warganya, khususnya komunitas lanjut usia, yang lebih sering terlihat di taman.

Dengan rasa bahagia, masyarakat terutama para manula akan tetap sehat sehingga tidak perlu berobat, yang pada intinya anggaran kesehatan – asuransi semacam BPJS – pemerintah dapat dihemat (masih tetap beraroma kapitalis juga motifnya). Intinya, keindahan memiliki hubungan yang signifikan dengan kebahagiaan bahkan kesehatan.

Untuk dapat melihat sebuah keindahan seseorang harus sudah pernah menyaksikan “ketidakindahan” sehingga dapat lebih jelas mengidentifikasi arti sebuah keindahan. Setelah menghabiskan 92 hari di London, penulis berkesempatan untuk mengunjungi kembali bumi Darussalam – untuk liburan, yang semakin terlihat jelas indahnya sebuah kehidupan kampus bersistem pesantren ini.

Salah satu kapling taman surga adalah masjid kampus. Taman ini akan semakin indah terlihat mulai shalat fajar sampai dengan terbit matahari. Keindahan tampak dari ragam aktivitas, kebersamaan, kemandirian dan keteladanan.

Rangkaian kegiatan indah dimulai saat shalat berjamaah, dilanjutkan dengan taushiah hadits oleh mahasiswa dan ceramah atau kajian kitab dari narasumber dosen. Kemudian sebagian jamaah melanjutkan dengan dzikirnya dan sebagian lainnya membaca dan menghafal Al-Quran.

Adapun pemandangan kebersamaan terlihat ketika beberapa mahasiswa secara mandiri dan saling bergantian “auto-tanggap” – istilah populer mahasiswa – berkeliling masjid untuk memanggil dan membangunkan temannya, yang terlanjur khsusuk dan larut dalam dzikirnya, menuju teras masjid untuk mengikuti kajian dan setoran hafalan. Ternyata, para mahasiswa yang terlihat itu adalah anggota Zona Al-Quran, komunitas khusus bagi mahasiswa yang ingin menghafal quran secara khusus.

Sedangkan kemandirian tampak mahasiswa lainnya (selain zona quran) yang tetap tinggal di dalam masjid untuk berdzikir, membaca dan menghafal al-quran secara mandiri.

Terakhir, adalah keteladanan yang terpancar dari dosen pembina Markaz Quran, satunya adalah seorang Doktor lulusan Al-azhar Mesir dan satunya lagi merupakan calon Doktor perdana S3 UNIDA. Keduanya, sesekali terlihat berkeliling masjid untuk mengontrol anggotanya dan tentu dengan sinyal positifnya (yang insha Allah akan semakin kuat dan luas lagi jangkauannya).

Selain itu, pada shaf pertama, tampak seorang dosen senior yang duduk khusuk dan menjadi uswah dan magnet bagi jamaah lain dalam menikmati amalan fajar sampai syuruq. Maka, keindahan di atas bak suasana raudhah di Masjid Nabawi – yang warna karpetnya pun hampir menyerupai.

Di atas adalah sebagian dari taman syurga yang terbuka dan dapat dilihat dari kebersamaan, kemandirian dan keteladanan dalam beragam aktivitas di kehidupan kampus perguruan tinggi pesantren Universitas Darussalam Gontor.

Ada banyak bagian taman lainnya yang tidak mampu tertuang dalam tulisan ini. Untuk dapat melihat bahkan merasakan dan menikmatinya, datanglah ke kampus Darussalam. Wallahu a’lam.

London, 26 Jumada al-Ula 1441/21 Januari 2020
Royyan Ramdhani Djayusman

One Comment